Rabu, 09 Juli 2014

Untuk Kekasih Cintaku

Banyak sudah kudengar cerita tentangmu, Kawan. Kekasihmu cerita banyak padaku. Tentang kesabaranmu, kehebatanmu, kesetiaanmu, dan ketidakmampuanmu menjadi aku. Kawan, tetapi namamu telah menumbangkanku dengan perlahan, di acap kali itu keluar dari mulutnya. Di satu sisi, aku merasa kakimu ada dikepalaku. Namun mungkin aku sudah gila, sebab di sisi lain, aku mengidolakanmu.
Sejujurnya, aku masih mencintainya. Dan ingin sekali membencimu. Tetapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membencimu. Membenci itu lebih sulit daripada berhenti mencintai. Engkau adalah pribadi yang baik. Aku percaya, di rumahmu dia akan aman. Aku yakin, dipelukmu dia akan tenang. Dan aku berharap, dari hatinya aku akan pergi.
Kawan, jagalah dia, milikilah anak dari rahimnya, dan untuk kalian aku berdoa.


(z.h)

Tak apa

Tidak denganmu itu tak apa
Aku tetap tidak sendirian di sini
Aku ditemani sepuluh jari tanganku

Tidak bersamamu itu tak apa
Sekalipun bukan aku untuk hidupmu
tetap tentangmu dalam karyaku

Tidak dicintaimu itu tak apa
Meskipun bukan aku dalam hatimu
Semangatku tetap senyummu
Ada atau tanpa aku,
Kau tetap keindahan yang nyata-nyata
Bagiku dan banyak mata

Tidak menikah denganmu?
Aku tak apa
Mungkin akan tiba saatnya aku tidak mencintaimu lagi
Tetapi sepanjang aku hidup
Kaulah inspirasiku

(z.h)

Maaf

Tulisan ini tercipta saat mata tak lagi mampu menangis dan mulut ini tak sanggup untuk berkelut
Ini yang kubilang berharap terlalu tinggi
Salahku yang menginginkan semua lebih dari ini,
salahku yang berharap kita bisa berjalan lebih jauh dari ini
Sayangnya, Sayang, ada jarak yang memisahkan kita,
aku tak tahu jarak itu berbentuk apa,
tapi aku merasa kita sangat jauh meskipun rasanya kau selalu ada di sini menemaniku
meskipun hanya lewat pesan singkat

Entah bagaimana caranya, kamu berhasil merenggut perhatianku tanpa sisa,
kamu sudah jadi satu-satunya meskipun kamu memperlakukanku sebagai salah satunya.
Sayang, luka karena aku mulai memiliki perasaan ini awalnya tak terasa perih,
namun "semakin aku mengenalmu, semakin aku merasa jauh darimu."
rasanya aku perlu mendeklarasikan ini,
membuat sebuah peringatan kecil bahwa kamu pernah hadir dan singgah,
meskipun hingga sekarang kau hanya datang dan pergi
Setidaknya kamu pernah ada,
memberi sesuatu yang ternyata berujung luka.

Ketika berkenalan denganmu,
aku tak minta banyak hal selain pertemanan
Tapi, kau membuka mataku dan mengecup manis anganku,
hingga aku merasa nyaman jika berada di dekatmu
Jika perasaan itu makin tumbuh, salahkah aku?
Maaf, jika aku terlalu berharap banyak
Maaf, jika aku tak bersikap sadar diri ataupun "memilih pergi"