Selasa, 16 September 2014
Cinta tak mengenal fisik
Aku: awwww, badan segede ini tetep aja di tabrak. Busetdeee
Bunga: lu lagian gak maju2, cepetan mau ngadem nih
Aku: sabar dulu kek.huft
Tirta yg mendengar kegaduhan itu langsung membuka matanya dan melepas headsetnya
Tirta: oyyy, pada kenapa sih? Sikbrik amat
Khori: ini si Dara gak maju2, kita dorong malah jatoh
Tirta: lo gppkan,dar?
Aku hanya membalas dgn senyum dan mengangguk mengisyaratkan bahwa aku baik2 saja, aku lgsg berjalan menuju bangkuku dan duduk disamping dini
Dini: lu kenapa sih,dar?
Aku: gue baru sadar kalo satu bus sm Tirta sumpah, knp lo gk ngasih tau?
Dini: gue kira lo udh tau,dar
Aku: kalo gue tau, gue gak bakal sepecicilan dan sampe jatoh kyk tadi,diniiii
Dini: ya sorry2, udah nikmattin aja, slow,din anggep aja dia kyk cowok2 yg lain temen lo gitu
Dini sangat meyakinkanku, aku beruntung punya teman sepertinya. Bus mulai melanjutkan perjalanan, aku yg mulai mengantuk akhirnya memutuskan untuk tidur sebentar. Tak berapa lama aku terbangun dr tidurku, aku melihat keluar jendela, ternyata sudah malam, aku melihat ke sebelahku untuk melihat Dini, aku sangat terkejut ternyata Tirta duduk disebelahku sambil membaca komik dan headset yg menempel di telinganya, rasanya aku ingin teriak, teriak sekencang2nya. Tirta mungkin merasa aku memerhatikannya, ia menengok ke arahku dan tersenyum, aku lgsg salah tingkah sendiri gatau hrs membalas atau acuh
Tirta: udah bangun?
Aku: eh, udah.hehehe. Dini mana?
Tirta: tuh depan tukerran sm Bunga, trs Bunganya mau dibelakang pacaran sm Dika, jd gue yg diusir. Gppkan gue duduk disini?
Aku: oh gitu.hehe gpplah, siapa yg ngelarang
Aku yg gatau hrs membahas apa akhirnya memutuskan untuk melihat ke keluar jendela.
Tirta: ada permen gk,dar? Asem nih
Aku: ada, tp bukan mint. Mau?
Tirta: gppdeh,dar. Mana?
Aku lgsg mengambil permen dalam tas tanganku dan menyodorkan ke Tirta, Tirta yg mengambil permen di tanganku lgsg membukanya dan memakannya. Selama 3tahun kenal, baru kali ini aku mengobrol berdua dgnnya ya hanya berdua dan duduk berdua, ya walaupun aku pernah foto berdua sm dia tp itu juga grgr buat contoh seragam sekolah.hahaha.
Tirta: mau dengerrin lagu gak?
Aku: enggak,tir makasih. Lo baca apa?
Tirta: yah padahal lagunya bagus nih, komik conan.hahaha. Mau baca?
Aku: ini di bus kan udah ada lagu,tir. Enggakdeh, pusing mata, udah gelap begini.
Bus pun sampai ditempat penginapan kami, kami berhamburan keluar bus dan mengambil koper kami lalu menuju kamar dan beristirahat. Satu minggu tak terasa kami lewati dan kami pun kembali ke rutinitas seperti biasa di jakarta.
Setelah perjalanan itu aku tidak pernah melihat senyum Tirta lg, entah kenapa keceriaan Tirta hilang begitu saja, entah karena ujian2 yg membuatnya pusing atau yg lain, aku tidak tahu dan aku tidak ada keberanian untuk bertanya. Namun aku merasakan ada yg hilang dalam diriku, tp entah apa. Lambat laun aku mulai penasaran dgn sikap Tirta yg aneh, aku ditemanni Dini untuk mencari tau. Aku dan Dini seperti detektif yg ingin memecahkan suatu masalah yg sangat berat, sampai2 aku dan dia hrs menyamar. Asal punya usul kami akhirnya mendapatkan beberapa fakta, aku mulai tau kenapa Tirta akhir2 ini berubah. Della alasannya, pacar Tirta yg baru mulai bertingkah. Sebelumnya aku tidak pernah melihat Tirta seserius ini dgn pacarnya, Della yg selalu dipuja dan dipuji Tirta malah menginjak2 Tirta, itu sebabnya senyum Tirta menghilang akhir2 ini. Dini yg mengetahui itu menyarankan aku untuk masuk ke kehidupan Tirta yg saat ini abu2, namun aku saja tidak berani untuk menyapanya.
UN telah kami laksanakan, hasilnya pun sangat memuaskan untuk sekolah kami, kami yg merasakan bahagia mengadakan coret2tan, aku dan teman2ku sangat bebas saat itu, kami sudah tidak harus memikirkan ujian2. Setelah sekian lama, akhirnya aku melihat lagi senyum itu, senyum yang membuat semangat hidupku, senyum itu kembali mengembang di bibir Tirta, inilah waktu yg aku tunggu, ya waktu dmn senyum itu kembali, senyum yg muncul dr hati bukan hanya paksaan. Tirta yang dulu ceria kembali. Dini yang melihat itu langsung mendorongku hingga aku menabrak Tirta dan hampir jatuh, namun Tirta sigap menangkapku.
Tirta: lo gpp,dar?
Aku: gppkok,ta. Maaf ya, td gue kedorong.
Tirta: iya, gpp slow aja,dar
Aku berusaha untuk berdiri, namun kakiku terkilir dan kembali terjatuh, Tirta menangkapku lg
Tirta: itu kaki lo terkilir,dar duduk dulu deh
Tirta memegang tanganku dan ia sangkutkan ke pundaknya dan membantuku untuk berjalan dan duduk di bangku.
Tirta: sini kaki lo
Aku: mau diapain? Gausah,ta
Tirta: yeee, ngeyel. Udah sini gpp
Kakiku diangkat olehnya dan sedikit diurut, aku yg merasakan sakit tbtb teriak.
Tirta: sorry2,dar. Ini kaki lo terkilir, gue anter pulang ya?
Aku: gausah,ta gue balik sm Dini
Tirta: lo jgn naik angkot, kaki lo lg begini, ama gue aja ya, ntar gue yg bilang Dini
Dini: udah lo ama Tirta aja,dar kaki lo lg begitu, gue gamau lu kenapa2, gue bisa balik sendiri kok
Aku: yakin,din?
Dini: iya,daraaa
Akhirnya aku diantar Tirta pulang ke rumah, entah mengapa perasaanku sangat senang, aku bisa ngobrol dgn Tirta lbh lama dan lbh akrab dgnnya.
setelah kejadian itu aku dan Tirta semakin dekat, kita sering bbm'an, telfonan, bahkan jalan. Aku yg senang tak pernah menuntut untuk lebih dari ini, dalam benakku "seperti ini saja aku sudah senang".
Aku dan Tirta beda kampus, tp kami tetap dekat, namun suatu ketika ia menghilang, tak ada kabar, tak ada balasan bbm maupun telfon, aku sangat khawatir dengannya, ini yg aku takutkan dr dulu, tbtb semua yg kurasakan menghilang, menghilang untuk beberapa waktu atau bahkan selamanya.
Aku mencoba untuk tetap berjalan, berjalan menjalani kehidupanku tanpa ada bayangnya.
Suatu ketika, aku bersama temanku mendapat tugas dr radio kampus untuk meliput acara kampus swasta ternama di jakarta, aku dan temanku akhirnya hadir dalam acara tersebut, awalnya aku tak merasakan ada memerhatikanku, tp aku sadar saat temanku memberitahuku bahwa sejak pertama acara ada yg memerhatikanku, aku melihat sekelilingku tp tak ada seorangpun yg aku kenal, aku berusaha untuk biasa saja. Aku yg merasakan bosan memutuskan untuk meninggalkan temanku dan berkeliling kampus sebentar, aku memotret setiap sudut kampus yg menurutku menarik. Aku melihat foto2 di kameraku sambil berjalan, aku yg tak melihat ke arah depan menabrak seseorang dan aku terhuyung dan jatuh, lelaki yg td aku tabrak membantuku untuk berdiri, saat itu juga aku mencium parfum yg sering aku cium dulu, harum yg khas dan terkesan maskulin, harum yg sudah tak pernah kucium lg, harum yg aku rindukan, aku tersadar dan lgsg menatap pria itu, yap, tepat sasaran, lelaki yg selama ini aku rindukan, lelaki yg dulu selalu membuatku bersemangat, lelaki yg dulu membuatku selalu berdebar. Lelaki itu tersenyum padaku, dan senyumnya msh sama seperti dulu, tulus dr hatinya. Ya, Tirta, Tirta ada dihadapanku, Tirta membantuku berdiri, aku yg merasakan sekujur tubuhku dingin dan gemetar, aku yg dgn reflek memeluk Tirta, entah apa yg ada dipikiranku, aku hanya ingin memberitahu kepada Tirta bahwa aku tak mau lg ditinggal olehnya, aku ingin ia tetap disini bersamaku, Tirta yg membalas pelukanku membuatku sangat nyaman dan aku menangis.
Tirta: dara, apa kabar?
Aku: baik. Lo gimana?
Tirta: ya seperti yg lo liat,dar. Gue kangen sm lo, sibuk gak? Boleh ngobrol dulu?
Aku: enggak, cuma lg liputan aja. Boleh, mau dimana?
Tirta: disitu aja yuk.
Tirta lgsg menarik tanganku untuk duduk dibawah pohon rindang, aku merasakan ada yg berbeda dgn Tirta, dari cara dia berjalan, entah apa yg salah dengannya.
Tirta: kamu gmn di kampus?
Aku: baik kok, anak2nya asik2. Kalo kamu?
Tirta: ya begitulah.hehe. Pasti udh banyak ya yg dekettin kamu? Apa udh punya pacar kamu?
Aku: haha, apasih Tirta, biasa aja kok. Enggak,tirta. Kamu kali yg udh punya pacar
Tirta: siapa yg mau sm aku,dar.hehehe. Hmm, kamu sabtu bsk ada acara?
Aku: belum ada sih, kenapa?
Tirta: gak kapok kan jalan sm aku? Jalan yuk
Aku: yuk, aku sih bebas. Oiya, tir kamu kmrn2 kemana aja?
Tirta: hmm, aku masuk kelas dulu ya,dar. Aku jawab sabtu bsk. Bye, dara.
Senyum Tirta mengembang di bibirnya. Aku msh merasakan janggal dalam diri Tirta.
Sabtu ini aku sangat bersemangat tidak seperti biasanya yg seharian menghabiskan waktu di kamar dan di depan laptop, hari ini aku bangun lbh pagi untuk membereskan rumah dan pergi ke salon, entah mengapa aku sangat mempersiapkan hari ini. Hpku berdering, muncul kontak Tirta, aku lgsg mengangkatnya.
Aku: hai,tirta
Tirta: hai dara, aku kerumah kamu skrg ya
Aku: iya,tirta hati2 ya
Tak seberapa lama Tirta sampai depan rumahku, dan ia langsung masuk ke dalam rumahku. Keluargaku sudah mengenal baik Tirta, begitu juga keluarganya kepadaku.
Aku: hai,tirta. Duduk
Tirta: makasih,dara. Kamu cantik hari ini
Aku: haha, jd kmrn2 aku gak cantik? Mau minum apa?
Tirta: haha, bukannya gitu, kamu setiap hari cantik kok. Hmm, apa aja deh, air putih juga gpp.hehe
Aku menyiapkan air minum untuknya.
Aku: ini minumnya, diminum ya
Tirta: makasih,dara. Oiya, ini buat kamu.
Tirta menyodorkan bunga dan coklat.
Aku: dalam rangka apa nih?
Tirta: ya gpp, pgn ngasih kamu itu aja.hehe.
Aku dan Tirta asik mengobrol, masa2 itu terulang lg, masa dimana kita sangat dekat, dan aku sangat takut untuk kehilangan Tirta untuk berulang kalinya.
Tirta: aku mau jawab pertanyaan kamu kmrn di kampusku
Aku: iya, apa?
Tirta: sebelumnya aku mau minta maaf, maaf aku hilang beberapa bulan ini, aku cuma lg terpuruk, aku gamau kamu ikut terpuruk, aku gak berani ketemu atau sekedar ngabarrin kamu, aku takut kamu ngejauhhin aku, aku gamau kamu jauh dr aku
Aku: loh kamu knp? Kan kamu bisa berbagi sm aku, aku gak bakal ninggallin kamu, kamu malah yg ninggallin aku
Tirta terdiam, ia menggulung celananya dan betapa kagetnya aku ia melakukan sesuatu untuk melepas ikatan di kakinya, semua kejanggalanku terjawab sudah, saat ia berjalan sangat aneh alasannya adalah ini, kakinya skrg memakai kaki palsu. Tirta mengangkat kaki palsunya dan melihatkan kakinya yg sudah tidak utuh lg. seketika aku lgsg meneteskan air mata dan memeluk Tirta.
Tirta: apa kamu msh mau deket2 aku kalo fisik aku udh cacat seperti ini,dar
Aku: kamu kenapa bisa mikir seperti itu? Kamu kenapa? Kenapa kamu gak ngasih tau aku dr awal,tir? Selama ini aku bertanya2 kemana kamu, aku terpuruk, aku merasa sendiri gak ada kamu
Tirta: aku takut kamu menjauh dr aku karna aku cacat, waktu itu aku dijalan mau ke rumah kamu, aku mau ngasih kejutan buat kamu, aku mau mengungkapkan perasaan aku, tp di jalan aku tertabrak mobil dan kakiku terlindas, mau gak mau kaki aku di amputasi, aku ngelarang buat keluargaku dan keluarga kamu untuk bilang ke kamu, aku gamau kamu jd mikirin aku, aku berusaha bangkit sendiri, aku ingat kata2 kamu, aku ingat kamu selalu ceria, aku nyewa fotografer hanya untuk foto kamu saat dimanapun hanya untuk aku tau keadaan dan melepaskan rinduku sm kamu, maaf aku gak cerita sm kamu,dar.
Aku: aku gak pernah ngeliat orang dr fisik,tir. Aku tetep mau deket sm kamu gimanapun keadaan kamu,tir. Aku sangat terpukul saat kamu hilang, aku gatau hrs nanya ke siapa, mama kamu aku sms atau telfon gak pernah di angkat
Tirta: maaffin aku,dar. Skrng aku mau jujur sm kamu. Aku sayang sm kamu, aku cinta sm kamu, apa kamu mau jd pacar orang cacat seperti aku?
aku: aku sayang sm kamu tulus,tir. Dr kelas 10 aku sayang sm kamu. Salah satu alasan aku gapunya pacar sampai saat ini adalah kamu, karna aku yakin kamu akan kembali sm aku. Aku mau,tirta aku sayang kamu
Tirta: aku jg sayang sm kamu. Makasih ya udah mau jd pacar orang cacat seperti aku.
*tamat*
Selasa, 05 Agustus 2014
zona nyaman
Rabu, 09 Juli 2014
Untuk Kekasih Cintaku
Banyak sudah kudengar cerita tentangmu, Kawan. Kekasihmu cerita banyak padaku. Tentang kesabaranmu, kehebatanmu, kesetiaanmu, dan ketidakmampuanmu menjadi aku. Kawan, tetapi namamu telah menumbangkanku dengan perlahan, di acap kali itu keluar dari mulutnya. Di satu sisi, aku merasa kakimu ada dikepalaku. Namun mungkin aku sudah gila, sebab di sisi lain, aku mengidolakanmu.
Sejujurnya, aku masih mencintainya. Dan ingin sekali membencimu. Tetapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membencimu. Membenci itu lebih sulit daripada berhenti mencintai. Engkau adalah pribadi yang baik. Aku percaya, di rumahmu dia akan aman. Aku yakin, dipelukmu dia akan tenang. Dan aku berharap, dari hatinya aku akan pergi.
Kawan, jagalah dia, milikilah anak dari rahimnya, dan untuk kalian aku berdoa.
(z.h)
Tak apa
Tidak denganmu itu tak apa
Aku tetap tidak sendirian di sini
Aku ditemani sepuluh jari tanganku
Tidak bersamamu itu tak apa
Sekalipun bukan aku untuk hidupmu
tetap tentangmu dalam karyaku
Tidak dicintaimu itu tak apa
Meskipun bukan aku dalam hatimu
Semangatku tetap senyummu
Ada atau tanpa aku,
Kau tetap keindahan yang nyata-nyata
Bagiku dan banyak mata
Tidak menikah denganmu?
Aku tak apa
Mungkin akan tiba saatnya aku tidak mencintaimu lagi
Tetapi sepanjang aku hidup
Kaulah inspirasiku
(z.h)
Maaf
Tulisan ini tercipta saat mata tak lagi mampu menangis dan mulut ini tak sanggup untuk berkelut
Ini yang kubilang berharap terlalu tinggi
Salahku yang menginginkan semua lebih dari ini,
salahku yang berharap kita bisa berjalan lebih jauh dari ini
Sayangnya, Sayang, ada jarak yang memisahkan kita,
aku tak tahu jarak itu berbentuk apa,
tapi aku merasa kita sangat jauh meskipun rasanya kau selalu ada di sini menemaniku
meskipun hanya lewat pesan singkat
Entah bagaimana caranya, kamu berhasil merenggut perhatianku tanpa sisa,
kamu sudah jadi satu-satunya meskipun kamu memperlakukanku sebagai salah satunya.
Sayang, luka karena aku mulai memiliki perasaan ini awalnya tak terasa perih,
namun "semakin aku mengenalmu, semakin aku merasa jauh darimu."
rasanya aku perlu mendeklarasikan ini,
membuat sebuah peringatan kecil bahwa kamu pernah hadir dan singgah,
meskipun hingga sekarang kau hanya datang dan pergi
Setidaknya kamu pernah ada,
memberi sesuatu yang ternyata berujung luka.
Ketika berkenalan denganmu,
aku tak minta banyak hal selain pertemanan
Tapi, kau membuka mataku dan mengecup manis anganku,
hingga aku merasa nyaman jika berada di dekatmu
Jika perasaan itu makin tumbuh, salahkah aku?
Maaf, jika aku terlalu berharap banyak
Maaf, jika aku tak bersikap sadar diri ataupun "memilih pergi"
Minggu, 08 Juni 2014
Menunggu
Suara hati
Rabu, 21 Mei 2014
munafik
Jumat, 09 Mei 2014
:)
Mulanya, kau mengajakku untuk memasuki labirin
Labirin yang entah darimana datangnya
Dan aku hanya mengikuti kemana langkahmu pergi
sampai akhirnya kau bingung sendiri dan makin tersesat
Ku nyalakan sebatang lilin, tuk mencahayai sekitarmu
Tak lama kau tersadar, dan kau telusuri lagi labirin itu
dengan aku yang masih dibelakangmu, dan tak jarang kuingatkan
'hati-hati, nanti makin tersesat'
Dengan senyum kecilmu dan air mata yang mengalir di pipi
kau hanya mengangguk, mengiyakan pesanku
Berbekal samar-samar cahaya lilin dan jalan yang tlah kau lewati
kau makin lihai melangkahkan kaki kecilmu untuk keluar dari labirin itu
Tanpa kau sadari, meninggalkanku, didalam kelamnya labirin
bersama canda, tawa, dan air matamu yang masih hangat kuingat
Kupejamkan mata ini, samar kudengar tawa bahagiamu dari luar labirin
Berpedoman kebahagiaanmu lah, ku telusuri langkahmu
Banyak ku dengar bisikkan lain, namun kuhiraukan
dan ku hanya terfokus padamu
Tak sia-sia kuikuti jalanmu, yang akhirnya membawaku ke cahaya terang
ke luar labirin
Dan ketika kubuka mata ini, kumerasakan kebahagiaan yang kau rasakan
Ku turut senang melihatmu senang
Ku tertawa melihatmu tertawa
Walaupun kau tertawa bersamanya, bersama orang yang kau cintai
Dan entah darimana lagi, labirin datang
labirin yang berbeda
yang kurasa lebih gelap
lebih rumit
dan lebih dingin tanpa adanya kau yang menemani
Ku hanya bisa memejamkan mata kembali, terdiam, dan berucap
'terima kasih, untuk kebahagiaan sesaat yang pernah kau bagi.
bahagialah selamanya bersamanya. dan...
terima kasih'

