Tya adalah seorang remaja yg duduk di kelas 2 SMA sebuah Sekolah Menengah Internasional. Tya berparas manis, tenang, ceria ini mempunyai banyak teman karena sifat Tya yg friendly. Tya mempunyai kekasih yg selalu mengerti keadaan Tya yg bernama Dion. Namun, semuanya berubah ketika Tya menemukan sebuah fakta yg membuatnya hancur dan terpukul. Tya yg dulunya ceria, kini berubah menjadi pendiam dan pemurung. keceriaannya kini hanya topeng. bagaimana cerita selengkapnya?
Kebohongan Membawa Penyesalan
pagi itu Tya sangat ceria, setelah beberapa hari terbaring dikasur rumah sakit. akhirnya Tya diizinkan untuk kembali beraktivitas.
"morning,mama",ucap Tya sambil mengecup kening ibunya.
"pagi,anakku sayang. ceria bgt kamu hari ini.",balas ibunya senang.
"iyadong,mah akhirnya aku bisa sekolah lg.",jawab Tya tersenyum.
"yaudah, kamu hati-hati ya,ty. jgn lupa dibawa bekelnya dan obatnya.",ujar ibunya sambil menyiapkan obat serta tempat makan.
"siap,mah. aku berangkat dulu ya,mah. loveyou mamah.",pamit Tya sambil mencium tangan serta kening ibunya.
sesampainya di sekolah Tya disambut ceria oleh teman-temannya yg telah menantikan kehadirannya.
"aaaaaa,Tya sumpah gue kangen bgt sama lo. banyak bgt yg pengen gue ceritain,Tyaaaaa.", ucap Nia sambil memeluk Tya.
"ih,Nia jgn meluk gue dong, peluk si Ilyas aja gih. lebay sih lo, baru juga beberapa hari. apalagi kalo gak akan ketemu-ketemu lg?", jawab Tya usil.
"Tya lo ngomongnya!!!", celetus Dini tiba-tiba.
"ih, kalian ngomong apaan sih? masa gue gak ngerti.", ujar Nia bingung.
"ahahaha, kepo deh si Nia. bukan apa-apa kok,ni.", ujar Tya sambil tertawa. " yaudah yuk masuk, bel udah udah bunyi tuh.", ajak Tya sambil menarik tangan Dini dan meninggalkan Nia yg masih bingung. "Din, jgn kasih tau Nia, cukup lo aja yg tau.", ucap Tya.
"tapikan dia juga temen lo,Ty.", jawab Dini bingung.
"udah, pokoknya jgn dikasih tau dulu.", jawab Tya.
sesampainya dikelas, pelajaran akan dimulai. Tya yg telah tidak masuk beberapa hari tetap bisa mengikuti pelajaran yg tertinggal. hingga bel pulang sekolah berbunyi. Tya langsung membereskan buku-buku dan memasukannya kedalam tas. Tya menuruni anak tangga bersama Dini dan Nia.
"Tya.", panggil seseorang yg sudah tidak asing bagi Tya.
"eh, Dion. kenapa,yon?", jawab Tya sambil tersenyum hangat kpd pria yg berada di hadapannya sekarang.
"kamu pulang sama siapa,ty? aku anter aja gimana?",tanya Dion.
"aku balik sama Dini, Nia. bukannya kamu masih basket ya?", balas Tya yg heran.
"enggakkok,Tya. aku hari ini gak basket, aku anter yah. gapapakan,Din,Ni?",tanya Dion yg seakan mengetahui pertanyaan Tya selanjutnya. Dini dan Nia hanya mengangguk percaya kepada Dion yg akan mengantarkan sahabat mereka ke rumahnya dgn selamat.
"yaudah, aku ikut aja,Dion.",ujar Tya yg disambut senyum manis Dion.
saat diperjalanan Tya merasakan ada yg sedikit berbeda dengan Dion, Tya-pun melihat ada bekas cakaran di tangan Dion. sesampainya di rumah Tya, Tya langsung menanyakan kepada Dion.
"Dion, tangan kamu knp?",tanya Tya sambil menunjuk tangan Dion.
"ini? oh, ini aku kecakar sendiri,Ty. kenapa emangnya?",jawab Dion tersenyum.
"gppkok,yon. di obattin dong,yon.",ucap Tya.
"iya,Ty. aku pamit pulang ya,Ty. Assalamualaikum.",pamit Dion tersenyum kepada Tya.
"Waalaikumsalam.", jawab Tya.
Dion berhasil meyakinkan Tya, namun senyuman Dion td membuat nyeri dihati Tya, namun Tya tidak mau memikirkan apapun.
*hari jumat*
Hari ini sekolah Tya melaksanakan LDKS untuk siswa/siswi kls 10, Tya yg menjabat sebagai ketua cheers ikut terlibat dalm prosesi latihan kepemimpinan ini, begitupun Dion sebagai ketua basket.
"hei,cantik aku nitip hpku dulu ya. aku mau ngawassin disitu dulu.", ucap Dion sambil mencubit pipi Tya.
"iya,Dion.",jawab Tya.
Tya yg awalnya hanya mendengarkan lagu, hati kecilnya mulai penasaran dgn isi hp yg ia genggam sekarang, Tya mulai membuka gallery foto, bbm dan sms. Tya membuka sms yg nomernya tidak disave oleh Dion. Tya tercengang dengan isi smsnya, sms mesra dan sedikit fulgar, lebih lagi karena disana tertulis 'cakar nih', Tya langsung mengingat cakaran yg berada di tangan Dion. apakah cakaran itu adalah cakaran Ira yg diduga mantan kekasih Dion.
"cantik, hpku mana?",ujar Dion menghampiri Tya.
Tya langsung memberikan hp Dion dan meninggalkan Dion tanpa berkata-kata. Dion yg heran langsung mengejar Tya.
"tya, kamu kenapasih?",tanya Dion kpd Tya.
"skrng kamu jujur sama aku, cakaran ditangan kamu itu dicakar siapa? dan Ira itu siapa?",tanya Tya kpd Dion.
"akukan udah bilang sama kamu, ini tanganku kecakar,Ty. Ira? oh, kamu baca sms di hpku? itu kakakku yg sms,Tya. dia gak ada pulsa, makanya dia minta pulsa sama aku, nomernyapun gak aku savekan?", ujar Dion meyakinkan. "kamu taukan,Ty? aku cuma sayang sm kamu, gak sayang sm yg lain,Ty.", ujar Dion menatap Tya.
"hmm, aku cuma takut. aku takut kamu bohongin aku.", ujar Tya menahan tangis.
"enggak, aku gk bohongin kamu,Tya. tenang aja ya,Tya.",ujar Dion tersenyum hangat.
Dion berhasil meyakinkan Tya, Tya kini sudah tenang, karena ia tak dibohongi, namun tetap ada rasa yg mengganjal dalam hati Tya, namun Tya berusaha menampik itu semua.
*satu bulan kemudian*
kecurigaan Tya semakin lama semakin bertambah karena kelakuan Dion yg kini jarang ada waktu bersama Tya, selalu ada alasan untuk menolak ajakan Tya, Dion yg kini lebih pemaksa dan emosional. itu semua membuat Tya yg dulu ceria, berubah menjadi pendiam dan pemurung. tawa Tya kini hanyalah alibi belaka, ya hanyalah topeng. teman-teman Tya yg melihat perubahan Tya kini merasa sedih, terutama Dini yg paling dekat dengan Tya, ia mengkhawatirkan kondisi Tya yg sekarang.
"tya, jalan yuk!", ajak Dini kepada Tya.
"kemana? tp gue lg kere nih.", ujar Tya kpd Dini.
"udah woles aja, gue traktir deh, anak-anak udah nunggu tuh diluar.", ajak Dini.
mereka memutuskan untuk pergi ke PIM. seperti biasa ketika mereka bersama-sama, mereka akan menjadi pusat perhatian, bukan hanya paras cantik mereka, namun juga kegilaan mereka, mereka berjam-jam disebuah toko hanya untuk melihat-lihat saja, tidak untuk membeli. setelah mereka puas berkeliling dan bermain, akhirnya mereka memutuskan untuk makan sejenak di foodcourt PIM, bukan hanya pilihan yg bermacam-macam, namun juga karena tempat yg ramai. sesampainya mereka di foodcourt, mereka memilih untuk menempati tempat duduk di tengah-tengah keramaian.
"mau mesen apa nih?",tanya Dini.
"apa ajalah,din.", jawab mereka kompak.
Nia yg sedang melihat-lihat sekeliling, matanya tak sengaja menangkap seseorang yg ia kenali, Dion, namun Dion tidak sendiri, melainkan bersama seorang wanita, mereka bermesraan. Nia yg tak ingin membuat suasana hancur, akhirnya mengajak mereka semua untuk pindah ke tempat makan yg lain.
"guys, pindah tempat makan yuk! gue gak suka makanan disini nih.", ajak Nia buru-buru.
"enggak ah PW tau, kalo makanan mah gampang, nnti lo tinggal minta ganti aja sama si Dini, yg penting tempatnya tetep disini, kan yg penting kita tetep bisa menggi.....", ucapan Tya berhenti karena ia melihat seseorang yg ia kenali, "dion????", ujar Tya pelan.
"mampus, gak demen deh gue kalo gini", ujar Nia.
Tya dan teman-temannya menghampiri Dion yg sedang bermesraan bersama wanita yg tidak ia kenali.
"dion???? ngapain kamu disini? dan ini? dan ini siapa? ini Ira? jadi selama ini bener ya,yon? pantes kamu jarang ada waktu untuk aku, dan kamu udh bohong sm aku? makasih ya,yon. mulai sekarang, gak usah kamu anggep pernah kenal lagi sama aku,yon. kita putus.", ujar Tya marah dan meninggalkan Dion.
"Tyaaaaa, tya tunggu,ty dengerrin penjelasan aku dulu.",ujar Dion sambil bangkit untuk mengejar Tya.
"dion, ngapain sih kamu ngejar dia? bagus dong, kamu gak usah ngumpet2 lg untuk jalan sama aku.", ujar Ira genit kpd Dion.
"diem lo!!!! nyesel gue berhubungan sama lo lg, asal lo tau ya, yg gue sayang itu Tya bukan lo. lo itu gak ada sedikitpun dihati gue. jgn ganggu gue lg. ngerti lo!!!!!", ujar Dion marah dan berlari mengejar Tya.
"Tya, please tunggu,ty. dengerrin aku dulu.", ujar Dion menarik tangan Tya untuk menahannya.
"lepassin,yon lepassin. jgn ganggu gue lg.", ucap Tya sambil berusaha melepaskan tangannya dr genggaman Dion.
"please dengerrin penjelasan aku dulu,Ty. aku mohon.", ucap Dion sambil tetap menggenggam tangan Tya.
"apalagi,yon? apalagi? gak ada yg perlu lo jelassin lg ke gue, bukti td itu udah cukup jelas,yon. dulu lo bilang Ira itu bukan siapa2 lo, tp apa td buktinya? lo gak lebih dr seorang pembohong, yon. gausah kenal gue lg. semoga lo bahagia sama Ira.", ujar Tya sambil menarik tangannya dan meninggalkan Dion.
"udah dengerkan lo? jangan pernah ganggu Tya lg.", ucap Nia kpd Dion.
Tya berjalan meninggalkan Dion sendiri yg menyesali perbuatannya. Tya berjalan meninggalkan Dion dengan penuh amarah dan dendam. Tya merasakan dirinya berputar, dan ia merasakan ada yg mengalir dr hidungnya.
'brakkkkkk!!!!!!', "tyaaaaaaa", jeritan terakhir yg terdengar oleh Tya. Tya yg tak kunjung sadarkan diri akhirnya dilarikan ke rumah sakit. teman-teman serta orangtua Tya dirundung kesedihan, begitupun juga Dion. Dini menghampiri Dion yg termenung di bangku koridor rumah sakit.
"yon!", panggil Dini.
"kenapa,din?", ucap Dion yg melirik Dini dan kembali menunduk.
"knpsih lo jahat sm Tya? Tya sayang bgt sama lo,yon. gue pikir awalnya lo juga sayang sm Tya, tp taunya enggak!", ucap Dini tersenyum sinis.
"din, gue sayang bgt sama Tya. gue tergoda sm iming2an si Ira, krn si Tya jarang ada waktu buat gue,din", ujar Dion menahan airmatanya.
"knp lo gak ngomong aja sm Tya? apa gunanya lo pacaran kalo gak ada keterbukaan sama sekali,yon? kalo sampe ada apa2 sam Tya, gue yg akan paling marah sama lo. ngerti lo!", ucap Dini meninggalkan Dion sendiri.
"Tya, please sadar. aku sayang sm kamu, maaffin aku. aku mohon sadar kamu,ty. aku akan memperbaiki semuanya", batin Dion.
Dion bangkit dari kursinya, berjalan menuju pintu kamar Tya. dr kaca pintu terlihat Tya yg dipasangi berbagai macam selang dan kabel. Dion meneteskan air mata. "ty, knp kamu bisa sampe kyk gini? kamu sakit apa?", tanya Dion dalam hati, Dion memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Tya dan masuk, namun sebelum ia berhasil membuka pintu kamar Tya, sebuah tangan telah menghalanginya untuk masuk, Dion mengangkat mukanya, dan menemukan Nia yg berada di sampingnya.
"lo mau ngapain?",ujar Nia sinis.
"gue mohon,ni izinnin gue buat ketemu Tya sekali aja. gue mau tau keadaannya, gue mau megang dia.", mohon Dion.
"lo udah cukup megang dia dan lihat dia kemarin.", ujar Nia ketus.
"please,ni. sebentar aja.", Dion kembali memohon sambil mengelap airmata.
"hmmm.",Nia membuang napas. "oke, gue izinnin, tp sebentar aja ya.", ujar Nia meninggalkan Dion.
Dion masuk ke kamar Tya yg dominan harum mawar putih, dan duduk disamping Tya.
"hai tya. apa kabar? aku kangen sama kamu, kangen senyum kamu, kangen canda kamu. aku terlalu bodoh,ty udah bohong dan khianattin kamu. hmm, mungkin ini kunjungan aku yg terakhir, aku gamau buat kamu lbh parah dr ini. I love you,ty. ty aku pamit ya. cepet sembuh.", ujar Dion pamit.
"thanks,ni. gue pamit ya. salam untuk semuanya.", ujar Dion kpd Nia.
*seminggu kemudian*
Dion yg masih diselimuti penyesalan dan kesedihan. Dion kini terpuruk dan murung.
"den, ada yg ingin bertemu sama aden.",ujar bibi inem.
"suruh masuk aja,bi.", ujar Dion yg tidak melepaskan pandangannya dr foto di bingkai yg unik.
"yon!", suara yg tak asing bagi Dion.
"knp,din? apa kabar Tya? Tya baik-baik aja kan?",tanya Dion dengan senyum datar.
"gue mau ngasih kabar. Tiga hari setelah lo ninggallin Tya. dia sempet sadar, trs dia dirujuk untuk operasi,yon.",ujar Dini dgn suara yg mulai memberat.
"operasi? operasi apa? berhasilkan?",tanya Dion yg bingung.
"sorry gue gak ngasih tau lo dr awal, tp itu permintaan Tya. lo bakal tau jawabannya di surat ini.", ujar Dini sambil memberikan surat kpd Dion. Dini menangis.
'Hai,dion. apa kabar? baikkan? aku cuma mau bilang aku sayang kamu,dion.hehe. mungkin kamu bosen ya dengernya? tp itu yg aku rasain,yon. aku sayang sm kamu, aku takut kehilangan kamu, kamu peyemangat hidup aku, mungkin kalo gak ada kamu, aku gatau nasib aku gimana.hehehe. mmm, maaf ya,yon aku ngasih tau kamu telat, sejujurnya, aku mempunyai penyakit leukimia,yon. aku gamau ngasih tau kamu, karna aku takut rasa sayang yg kamu kasih buat aku hanya karna kasian,yon. yon, jujur aku lebih suka kamu jujur dr awal, drpd aku harus tau dr orang lain atau aku ngeliat langsung, karna rasanya itu lebih sakit,yon. aku juga gak suka kamu bohong. aku lebih suka kamu jujur,yon. aku gak akan marah sama kamu, karna aku ngehargain kejujuran kamu. yon, maaf ya aku gabisa nemennin kamu lg, aku hrs pergi,yon. aku udh gak kuat dgn penyakit ini, penyakit ini nyiksa aku,yon. aku minta maaf sekali lg. walaupun aku udh gak ada, tp inget yon, aku akan abadi di hati kamu. I LOVE YOU DION'
Surat yg ternodai darah itu membuat Dion semakin sesak, Dion semakin merasakan penyesalan yg sangat amat. Dion melirik ke arah Dini.
"iya,yon. Tya udah meninggal. tubuhnya menolak untuk transpalansi sumsum tulang belakang.", ujar Dini menangis.
"anter gue ke peristirahatan terakhirnya,din.", ujar Dion mengelap air matanya.
sesampainya di makan Tya, Dion meletakan sebuket bunga mawar putih kesukaan Tya.
"hai tya. apa kabar? baik kan disana? nih aku bawain mawar putih kesukaan kamu, maaf ya aku ngasih ke kamu saat kamu udh gak ada,ty. gimana,ty disana? kesepian gak kamu? aku kesepian nih disini,ty. coba ada kamu,ty. maaffin aku ya,ty sekali lagi, udah buat kamu kyk gini, dan sikap bodohku karena aku tergoda sama si Ira trs juga aku udh bohong sm kamu, jujur aku nyesel bgt,ty sebenernya aku cuma sayang sm kamu,ty. knpsih kamu baru bilang sm aku punya penyakit seperti itu? dikasih taunya lewat surat lg, bandel bgt sih kamu, akutuh sayang sm kamu tulus, gak ada apa2,tya. aku boleh minta kamu dateng di setiap mimpiku kan,ty? kangen aku sama kamu,ty. maaf ya,ty aku gak ada disamping kamu disaat terakhir kamu, aku bener-bener nyesel. aku janji, aku akan selalu nengokkin kamu kesini dan bawa mawar putih kesukaan kamu, tp jgn bosen ya,tya.hehehe. sekali lg, aku sayang bgt sama kamu, seperti yg kamu bilang, kamu akan abadi dalam hatiku,ty. aku pamit pulang ya,tya.",ucap Dion bangkit dan mengelap air matanya, angin lembut berhembus menghampiri pipi Dion. "aku tau,ty pasti kamu denger dan ngeliat akukan? aku juga tau kamu ada dideket aku. pasti kamu bahagia ya disana? selamat jalan Tya tenang ya kamu disana. terimakasih atas kecupannya.", ucap Dion tersenyum hangat dan meninggalkan makan Tya.
"enggak ah PW tau, kalo makanan mah gampang, nnti lo tinggal minta ganti aja sama si Dini, yg penting tempatnya tetep disini, kan yg penting kita tetep bisa menggi.....", ucapan Tya berhenti karena ia melihat seseorang yg ia kenali, "dion????", ujar Tya pelan.
"mampus, gak demen deh gue kalo gini", ujar Nia.
Tya dan teman-temannya menghampiri Dion yg sedang bermesraan bersama wanita yg tidak ia kenali.
"dion???? ngapain kamu disini? dan ini? dan ini siapa? ini Ira? jadi selama ini bener ya,yon? pantes kamu jarang ada waktu untuk aku, dan kamu udh bohong sm aku? makasih ya,yon. mulai sekarang, gak usah kamu anggep pernah kenal lagi sama aku,yon. kita putus.", ujar Tya marah dan meninggalkan Dion.
"Tyaaaaa, tya tunggu,ty dengerrin penjelasan aku dulu.",ujar Dion sambil bangkit untuk mengejar Tya.
"dion, ngapain sih kamu ngejar dia? bagus dong, kamu gak usah ngumpet2 lg untuk jalan sama aku.", ujar Ira genit kpd Dion.
"diem lo!!!! nyesel gue berhubungan sama lo lg, asal lo tau ya, yg gue sayang itu Tya bukan lo. lo itu gak ada sedikitpun dihati gue. jgn ganggu gue lg. ngerti lo!!!!!", ujar Dion marah dan berlari mengejar Tya.
"Tya, please tunggu,ty. dengerrin aku dulu.", ujar Dion menarik tangan Tya untuk menahannya.
"lepassin,yon lepassin. jgn ganggu gue lg.", ucap Tya sambil berusaha melepaskan tangannya dr genggaman Dion.
"please dengerrin penjelasan aku dulu,Ty. aku mohon.", ucap Dion sambil tetap menggenggam tangan Tya.
"apalagi,yon? apalagi? gak ada yg perlu lo jelassin lg ke gue, bukti td itu udah cukup jelas,yon. dulu lo bilang Ira itu bukan siapa2 lo, tp apa td buktinya? lo gak lebih dr seorang pembohong, yon. gausah kenal gue lg. semoga lo bahagia sama Ira.", ujar Tya sambil menarik tangannya dan meninggalkan Dion.
"udah dengerkan lo? jangan pernah ganggu Tya lg.", ucap Nia kpd Dion.
Tya berjalan meninggalkan Dion sendiri yg menyesali perbuatannya. Tya berjalan meninggalkan Dion dengan penuh amarah dan dendam. Tya merasakan dirinya berputar, dan ia merasakan ada yg mengalir dr hidungnya.
'brakkkkkk!!!!!!', "tyaaaaaaa", jeritan terakhir yg terdengar oleh Tya. Tya yg tak kunjung sadarkan diri akhirnya dilarikan ke rumah sakit. teman-teman serta orangtua Tya dirundung kesedihan, begitupun juga Dion. Dini menghampiri Dion yg termenung di bangku koridor rumah sakit.
"yon!", panggil Dini.
"kenapa,din?", ucap Dion yg melirik Dini dan kembali menunduk.
"knpsih lo jahat sm Tya? Tya sayang bgt sama lo,yon. gue pikir awalnya lo juga sayang sm Tya, tp taunya enggak!", ucap Dini tersenyum sinis.
"din, gue sayang bgt sama Tya. gue tergoda sm iming2an si Ira, krn si Tya jarang ada waktu buat gue,din", ujar Dion menahan airmatanya.
"knp lo gak ngomong aja sm Tya? apa gunanya lo pacaran kalo gak ada keterbukaan sama sekali,yon? kalo sampe ada apa2 sam Tya, gue yg akan paling marah sama lo. ngerti lo!", ucap Dini meninggalkan Dion sendiri.
"Tya, please sadar. aku sayang sm kamu, maaffin aku. aku mohon sadar kamu,ty. aku akan memperbaiki semuanya", batin Dion.
Dion bangkit dari kursinya, berjalan menuju pintu kamar Tya. dr kaca pintu terlihat Tya yg dipasangi berbagai macam selang dan kabel. Dion meneteskan air mata. "ty, knp kamu bisa sampe kyk gini? kamu sakit apa?", tanya Dion dalam hati, Dion memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Tya dan masuk, namun sebelum ia berhasil membuka pintu kamar Tya, sebuah tangan telah menghalanginya untuk masuk, Dion mengangkat mukanya, dan menemukan Nia yg berada di sampingnya.
"lo mau ngapain?",ujar Nia sinis.
"gue mohon,ni izinnin gue buat ketemu Tya sekali aja. gue mau tau keadaannya, gue mau megang dia.", mohon Dion.
"lo udah cukup megang dia dan lihat dia kemarin.", ujar Nia ketus.
"please,ni. sebentar aja.", Dion kembali memohon sambil mengelap airmata.
"hmmm.",Nia membuang napas. "oke, gue izinnin, tp sebentar aja ya.", ujar Nia meninggalkan Dion.
Dion masuk ke kamar Tya yg dominan harum mawar putih, dan duduk disamping Tya.
"hai tya. apa kabar? aku kangen sama kamu, kangen senyum kamu, kangen canda kamu. aku terlalu bodoh,ty udah bohong dan khianattin kamu. hmm, mungkin ini kunjungan aku yg terakhir, aku gamau buat kamu lbh parah dr ini. I love you,ty. ty aku pamit ya. cepet sembuh.", ujar Dion pamit.
"thanks,ni. gue pamit ya. salam untuk semuanya.", ujar Dion kpd Nia.
*seminggu kemudian*
Dion yg masih diselimuti penyesalan dan kesedihan. Dion kini terpuruk dan murung.
"den, ada yg ingin bertemu sama aden.",ujar bibi inem.
"suruh masuk aja,bi.", ujar Dion yg tidak melepaskan pandangannya dr foto di bingkai yg unik.
"yon!", suara yg tak asing bagi Dion.
"knp,din? apa kabar Tya? Tya baik-baik aja kan?",tanya Dion dengan senyum datar.
"gue mau ngasih kabar. Tiga hari setelah lo ninggallin Tya. dia sempet sadar, trs dia dirujuk untuk operasi,yon.",ujar Dini dgn suara yg mulai memberat.
"operasi? operasi apa? berhasilkan?",tanya Dion yg bingung.
"sorry gue gak ngasih tau lo dr awal, tp itu permintaan Tya. lo bakal tau jawabannya di surat ini.", ujar Dini sambil memberikan surat kpd Dion. Dini menangis.
'Hai,dion. apa kabar? baikkan? aku cuma mau bilang aku sayang kamu,dion.hehe. mungkin kamu bosen ya dengernya? tp itu yg aku rasain,yon. aku sayang sm kamu, aku takut kehilangan kamu, kamu peyemangat hidup aku, mungkin kalo gak ada kamu, aku gatau nasib aku gimana.hehehe. mmm, maaf ya,yon aku ngasih tau kamu telat, sejujurnya, aku mempunyai penyakit leukimia,yon. aku gamau ngasih tau kamu, karna aku takut rasa sayang yg kamu kasih buat aku hanya karna kasian,yon. yon, jujur aku lebih suka kamu jujur dr awal, drpd aku harus tau dr orang lain atau aku ngeliat langsung, karna rasanya itu lebih sakit,yon. aku juga gak suka kamu bohong. aku lebih suka kamu jujur,yon. aku gak akan marah sama kamu, karna aku ngehargain kejujuran kamu. yon, maaf ya aku gabisa nemennin kamu lg, aku hrs pergi,yon. aku udh gak kuat dgn penyakit ini, penyakit ini nyiksa aku,yon. aku minta maaf sekali lg. walaupun aku udh gak ada, tp inget yon, aku akan abadi di hati kamu. I LOVE YOU DION'
Surat yg ternodai darah itu membuat Dion semakin sesak, Dion semakin merasakan penyesalan yg sangat amat. Dion melirik ke arah Dini.
"iya,yon. Tya udah meninggal. tubuhnya menolak untuk transpalansi sumsum tulang belakang.", ujar Dini menangis.
"anter gue ke peristirahatan terakhirnya,din.", ujar Dion mengelap air matanya.
sesampainya di makan Tya, Dion meletakan sebuket bunga mawar putih kesukaan Tya.
"hai tya. apa kabar? baik kan disana? nih aku bawain mawar putih kesukaan kamu, maaf ya aku ngasih ke kamu saat kamu udh gak ada,ty. gimana,ty disana? kesepian gak kamu? aku kesepian nih disini,ty. coba ada kamu,ty. maaffin aku ya,ty sekali lagi, udah buat kamu kyk gini, dan sikap bodohku karena aku tergoda sama si Ira trs juga aku udh bohong sm kamu, jujur aku nyesel bgt,ty sebenernya aku cuma sayang sm kamu,ty. knpsih kamu baru bilang sm aku punya penyakit seperti itu? dikasih taunya lewat surat lg, bandel bgt sih kamu, akutuh sayang sm kamu tulus, gak ada apa2,tya. aku boleh minta kamu dateng di setiap mimpiku kan,ty? kangen aku sama kamu,ty. maaf ya,ty aku gak ada disamping kamu disaat terakhir kamu, aku bener-bener nyesel. aku janji, aku akan selalu nengokkin kamu kesini dan bawa mawar putih kesukaan kamu, tp jgn bosen ya,tya.hehehe. sekali lg, aku sayang bgt sama kamu, seperti yg kamu bilang, kamu akan abadi dalam hatiku,ty. aku pamit pulang ya,tya.",ucap Dion bangkit dan mengelap air matanya, angin lembut berhembus menghampiri pipi Dion. "aku tau,ty pasti kamu denger dan ngeliat akukan? aku juga tau kamu ada dideket aku. pasti kamu bahagia ya disana? selamat jalan Tya tenang ya kamu disana. terimakasih atas kecupannya.", ucap Dion tersenyum hangat dan meninggalkan makan Tya.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar